Info Penting

Aplikasi Yasin dan Tahlil No 1 di Google dan Playstore

A plikasi Yasin dan Tahlil terbaik nomor 1 di Google dan Playstore kaya akan fitur dan konten yang bermanfaat untuk amalan sehari-hari u...

Info Penting

Artikel Terbaru

Google Bawa Guided Learning ke Classroom: AI yang Menuntun, Bukan Memberi Jawaban

Keluhan yang paling sering terdengar sejak AI masuk ke ruang kelas sebenarnya sederhana: siswa bertanya, jawaban langsung jadi, lalu proses belajarnya hilang entah ke mana. PR selesai dalam hitungan detik, tetapi pemahaman tidak ikut selesai.

Google tampaknya mendengar keluhan itu. Pada 3 November 2026, Google mengumumkan bahwa Guided Learning — mode belajar di Gemini yang menuntun siswa langkah demi langkah alih-alih menyodorkan jawaban akhir — kini tersedia secara global di Google Classroom, dan akan diuji coba juga di Google Search untuk sekolah-sekolah terpilih di Amerika Serikat mulai akhir November ini.

AI yang Bertanya Balik, Bukan Menjawab

Guided Learning pertama kali hadir di Gemini pada Agustus 2025. Cara kerjanya berbeda dari chatbot biasa: siswa dibimbing dengan pertanyaan-pertanyaan pemicu yang terbuka, penjelasan dipecah menjadi tahapan kecil, dan responsnya bisa berupa diagram, video, sampai kuis interaktif.

Google menyebut prinsip di baliknya productive struggle — siswa sengaja dibiarkan "berjuang secara produktif": cukup tertantang untuk berpikir, tetapi tidak sampai kewalahan lalu menyerah. Jadi kalau siswa menempel soal fisika dan meminta jawaban, yang datang bukan kunci jawaban, melainkan pertanyaan balik: "Menurutmu, besaran apa saja yang diketahui dari soal ini?"

Cara Kerjanya di Google Classroom

Di Classroom, kendali tetap di tangan guru. Alurnya kurang lebih seperti ini:

  1. Guru menugaskan aktivitas Guided Learning seperti menugaskan tugas biasa.
  2. Siswa mengerjakan satu lawan satu dengan AI, dan bahasannya berpijak pada materi yang diunggah guru — bukan materi acak dari internet.
  3. Ada Focus Mode yang menjaga siswa tetap pada topik; kalau percakapan mulai melantur, AI mengarahkannya kembali ke tujuan belajar yang ditetapkan guru.
  4. Guru menerima ringkasan perkembangan kelas maupun per siswa secara real-time, termasuk transkrip percakapan lengkap, sehingga mudah terlihat siapa yang mulai paham dan siapa yang masih tersangkut di langkah tertentu.

Versi Search bekerja dengan logika yang sama: untuk akun siswa, permintaan bantuan PR tertentu akan memicu panduan bertahap, bukan jalan pintas menuju jawaban akhir. Untuk saat ini versi Search masih berupa pilot di sejumlah sekolah di AS, dan Google akan mengumpulkan masukan guru sebelum memperluasnya.

Aturan Baru: AI Mati Secara Bawaan, Sekolah yang Menyalakan

Bagian yang tidak kalah penting dari pengumuman ini adalah soal kontrol. Google menyatakan akses ke Gemini, Gemini Notebook, Gemini di Classroom, dan Google Search akan sepenuhnya nonaktif untuk akun siswa K-12 (setara TK sampai SMA) sampai administrator sekolah menyalakannya satu per satu secara eksplisit.

Artinya, keputusan memakai AI di kelas tidak lagi ditentukan oleh bawaan pabrik, melainkan oleh sekolah. Google juga menegaskan untuk layanan inti Workspace for Education: data sekolah adalah milik sekolah, data siswa tidak dijual, tidak dipakai untuk iklan, dan tidak digunakan melatih model AI generatif mereka.

Catatan jujurnya: perubahan kontrol ini belum berlaku penuh. Google baru akan membagikan rincian teknisnya kepada sekolah dalam beberapa bulan ke depan, jadi sekolah masih punya waktu bersiap. Tapi arahnya sudah jelas — AI di sekolah bergerak ke model opt-in, bukan terpasang diam-diam.

Apakah Cara Ini Terbukti Membantu?

Google menyertakan dua riset. Uji acak di Sierra Leone melibatkan 1.763 siswa kelas 7 dan 8 pada pelajaran matematika di 48 kelas: kelompok Guided Learning menunjukkan kemajuan yang oleh peneliti disetarakan dengan siswa median yang naik dari persentil 50 ke persentil 60. Uji 10 minggu di Inggris dengan 1.179 siswa menunjukkan bimbingan AI yang diawasi tutor mampu menandingi tutor manusia pada ukuran-ukuran belajar jangka dekat.

Namun hasil-hasil itu tidak serta-merta sempurna. Pada asesmen matematika yang lebih luas di Inggris, keunggulan bimbingan AI belum terlihat jelas, dan siswa yang kemampuan awalnya lebih kuat justru mendapat manfaat lebih besar. Penelitinya sendiri menekankan struktur yang dipimpin guru — guru menetapkan tujuan, mengatur kerja berpasangan, dan memimpin diskusi penutup — adalah bagian yang membuat intervensi ini bekerja. AI-nya membantu, tetapi guru tetap pemeran utamanya.

Apa Artinya untuk Guru di Indonesia?

Google Classroom adalah salah satu platform yang paling banyak dipakai guru Indonesia, jadi ada peluang fitur ini bisa dicoba di kelas kita begitu tersedia di akun sekolah masing-masing — dengan catatan, pengaktifannya kelak berada di tangan admin sekolah.

Sambil menunggu, prinsipnya sebenarnya bisa dipraktikkan hari ini juga dengan AI apa pun yang sudah Bapak/Ibu pakai. Cukup ubah perintahnya: minta AI berperan sebagai penuntun yang hanya boleh bertanya dan memberi petunjuk kecil, bukan memberi jawaban final. Satu kalimat instruksi sederhana seperti itu sering kali mengubah AI dari "mesin pemberi jawaban" menjadi teman berlatih yang jauh lebih mendidik.

Teknologi di kelas akan terus berganti, tetapi satu hal tidak berubah: siswa tetap butuh dituntun untuk berpikir, bukan sekadar dibantu untuk selesai. Senang rasanya melihat raksasa teknologi akhirnya merancang AI dengan kesadaran itu.

Bagaimana pengalaman Bapak/Ibu sejauh ini — apakah AI di kelas lebih sering membantu siswa memahami, atau justru membuat mereka malas berpikir? Silakan berbagi di kolom komentar.

Sumber: pengumuman resmi Google, "Responsible AI for schools with Guided Learning" (blog.google, 3 November 2026) dan laporan riset Guided Learning Google.

Uploaded Image

Tester Paling Jujur Itu Ternyata Anak Kelas 3 SD


Semalam saya dibikin kaget sama anak saya sendiri.

“Bapak, aku bisa ngecheat di IGIVerse buat dapat poin!”

Saya yang dengar langsung mikir, lho kok bisa? Namanya juga penasaran, langsung saya cek sendiri. Dan ternyata... beneran bisa.

Di arena Obby, anak saya nemu celahnya. Dia nggak perlu capek-capek naik platform satu per satu. Cukup jalan lurus di tanah di bawah lintasan, lalu loncat sekali pas di dekat papan finis, eh karakternya langsung keangkat ke atas dan poinnya masuk.

Pinter sih nemu celahnya, tapi ya nggak bisa dibiarin. Ini game belajar, masa dapat poinnya pakai jalan pintas? 😄

Untungnya celah itu langsung saya perbaiki malam itu juga. Sekarang sudah nggak bisa curang lagi — versi anak saya sendiri yang membuktikan.

Mau dapat poin dari Obby? Ya harus usaha beneran. Naik satu per satu, hati-hati jangan sampai jatuh, kalau jatuh ya ulangi lagi dari bawah.

Menurut saya justru di situ serunya IGIVerse. Ini kota belajar 3D dari IGI tempat anak bisa keliling kota, masuk gedung mata pelajaran, jawab kuis buat ngumpulin koin dan XP, jalanin misi, main di taman kota, sampai taklukkan Obby — tapi semuanya harus pakai usaha sendiri, tanpa cheat.

Belajarnya dapat, serunya dapat, jujurnya juga dapat.

Terima kasih ya, Nak. Bapaknya yang bikin game, anaknya yang nemu bug-nya. Tester terbaik memang yang ada di rumah sendiri.

Mau coba? download aplikasinya di playstore (SIM IGI): s.igi.or.id/apk 

Belajar Topik Rumit Kini Bisa Sambil Menjelajah, Gemini Punya Immersive Explorations

Belajar topik yang rumit sering terasa berat kalau hanya mengandalkan teks panjang. Membaca cara kerja mesin jet dari buku, misalnya, kita harus membayangkan sendiri bagian-bagiannya. Nah, Google mencoba cara lain: pada 28 Oktober 2026, Gemini kedatangan fitur bernama Immersive Explorations, yang mengubah topik-topik rumit menjadi pengalaman visual interaktif yang bisa dijelajahi lapis demi lapis.

Belajar dengan Cara Menjelajah

Berbeda dengan chat biasa yang jawabannya berupa teks, Immersive Explorations menampilkan sebuah adegan visual dari suatu topik. Kita bisa mengetuk bagian-bagian di dalamnya, lalu penjelasan akan terbuka semakin dalam — mulai dari konsep besarnya, turun ke bagian-bagiannya, sampai ke level molekul dan atom, lengkap dengan panduan penjelasan di setiap lapisan.

Topik awal yang disiapkan Google cukup beragam, sekitar 20 topik, di antaranya:

  • Jalur Sutra — menelusuri rute perdagangan kuno antarwilayah.
  • Mesin jet — mengintip bagian dalam dan cara kerja mesin pesawat.
  • Fisika petir — menguraikan bagaimana petir bisa terjadi.

Kategorinya juga luas, mulai dari peradaban, energi, teknik, kedokteran, geologi, lautan, sampai penerbangan luar angkasa. Jadi bukan hanya untuk pelajaran sains saja.

Cara Mencobanya

  1. Buka Gemini di web atau aplikasi HP, lalu masuk ke Student Hub (menu Students).
  2. Pilih opsi Try immersive explorations.
  3. Atau kunjungi langsung perpustakaannya di gemini.google.com/immersive-explorations.
  4. Pilih topik yang menarik, lalu ketuk bagian-bagiannya untuk membuka lapisan penjelasan berikutnya.

Fitur ini tersedia di web dan mobile, mendukung bahasa Indonesia, dan bisa diakses pengguna akun Google pribadi, pelanggan Workspace Individual, maupun pelanggan Google Workspace. Untuk guru, fitur seperti ini bisa menjadi pembuka pelajaran yang menarik: siswa diajak menjelajah dulu, baru kemudian masuk ke penjelasan dan diskusi.

Catatan Batasannya

Agar tidak salah ekspektasi, ada satu hal penting: untuk saat ini Immersive Explorations masih berupa perpustakaan topik yang disiapkan Google. Kita belum bisa meminta Gemini membuatkan eksplorasi sendiri untuk topik apa pun yang kita mau. Google berencana menghadirkannya langsung ke dalam percakapan Gemini dan menambahkan narasi audio, tapi itu masih menyusul. Namanya peluncuran baru, jadi kalau di akun teman-teman belum muncul atau belum mulus dibuka, coba lagi beberapa waktu kemudian.

Menurut saya, arah seperti ini yang membuat AI terasa manfaatnya untuk pendidikan: bukan sekadar menjawab pertanyaan, tetapi membantu kita melihat dan menjelajahi ilmu itu sendiri. Teknologi memang tidak menggantikan guru, tetapi di tangan guru yang kreatif, ia bisa menjadi pintu masuk belajar yang jauh lebih hidup.

Semoga bermanfaat. Topik apa yang paling ingin teman-teman jelajahi duluan: mesin jet, petir, atau Jalur Sutra? Silakan berbagi di kolom komentar ya.

Uploaded Image

ChatGPT Sekarang Bisa Dikunci Pakai PIN, Biar Chat Sensitif Nggak Diintip Orang

Tidak semua percakapan di ChatGPT layak dilihat orang lain. Ada draf pekerjaan, urusan pribadi, sampai pertanyaan yang sifatnya sensitif. Untuk kebutuhan seperti itu, OpenAI mulai menggulirkan fitur Locked Chats sejak 20 Oktober 2026. Percakapan tertentu kini bisa dikunci dengan PIN empat digit, sehingga tidak muncul lagi di riwayat biasa dan tidak mudah diintip ketika HP sedang dipinjam orang lain.

Bayangkan situasinya: HP kita dipinjam anak atau keponakan, atau kita sedang presentasi sambil berbagi layar, lalu daftar chat di ChatGPT terbuka semua. Ada chat berisi draf penting, curhatan soal pekerjaan, atau hal-hal yang sifatnya pribadi. Nah, chat-chat seperti itu sekarang bisa disembunyikan di balik kunci.

Apa Itu Locked Chats?

Sesuai namanya, Locked Chats adalah fitur untuk mengunci percakapan pilihan dengan PIN akun empat digit. Chat yang sudah dikunci akan hilang dari daftar riwayat biasa, tidak muncul di chat yang disematkan, dan tidak ditemukan lewat pencarian percakapan. Chat tersebut pindah ke tempat khusus bernama Locked chats di dalam menu Projects.

Untuk membukanya lagi, kita cukup memasukkan PIN. Di iPhone bisa diganti dengan Face ID atau Touch ID, sedangkan di Android bisa memakai autentikasi perangkat seperti sidik jari. Di HP, akses ke chat terkunci juga akan tertutup otomatis setelah sekitar satu menit kita keluar dari area tersebut. Praktis.

Cara Mengunci Chat di ChatGPT

  1. Buka ChatGPT (web, aplikasi Android/iOS, atau desktop), lalu pilih percakapan yang ingin dilindungi.
  2. Tekan menu tiga titik di samping percakapan tersebut.
  3. Pilih opsi Lock chat, lalu konfirmasi.
  4. Kalau baru pertama kali, kita akan diminta membuat PIN akun empat digit. PIN ini berlaku untuk seluruh akun, jadi ingat baik-baik ya.
  5. Selesai. Chat akan pindah ke Projects > Locked chats. Untuk membuka, masuk ke sana dan masukkan PIN atau autentikasi perangkat.

Fitur ini tersedia untuk semua paket, termasuk pengguna gratis (Free), Go, Plus, Pro, Business, Enterprise, dan Edu. Tapi peluncurannya bertahap, jadi kalau opsi Lock chat belum muncul di akun teman-teman, jangan bingung dulu — tunggu beberapa hari, biasanya akan datang sendiri bergiliran, termasuk untuk kita di Indonesia.

Catatan Penting Sebelum Memakai

Ada tiga hal yang wajib diketahui supaya tidak salah paham:

  • Ini bukan enkripsi. OpenAI sendiri menegaskan Locked Chats bukan enkripsi end-to-end dan bukan brankas terenkripsi terpisah. Fungsinya melindungi chat dari orang di sekitar kita — yang meminjam HP, melihat layar, dan sebagainya — bukan menyembunyikannya dari sistem OpenAI. Setelan penggunaan data untuk pelatihan model juga tidak berubah oleh fitur ini.
  • Jangan sampai lupa PIN! Ini yang paling serius. Kalau PIN lupa dan kita melakukan reset, maka seluruh chat yang terkunci akan terhapus permanen, dan tim dukungan OpenAI pun tidak bisa memulihkannya. Jadi pilih PIN yang mudah kita ingat tapi tidak mudah ditebak orang.
  • Tidak semua chat bisa dikunci. Percakapan sementara (Temporary Chat), chat yang diarsipkan, percakapan grup, dan chat yang berisi tugas terjadwal termasuk yang dikecualikan.

Menurut saya, fitur seperti ini menunjukkan arah yang baik: semakin sering kita memakai AI untuk urusan penting, semakin kita butuh kendali atas privasi percakapan kita sendiri. Kuncinya tetap sama seperti nasihat keamanan digital pada umumnya — manfaatkan fiturnya, tapi pahami juga batas dan risikonya.

Semoga bermanfaat. Di akun teman-teman, fitur Lock chat ini sudah muncul belum? Silakan berbagi di kolom komentar ya.

Uploaded Image

Gemini Sekarang Bisa Edit Dokumen Langsung di Dalam Chat, Nggak Perlu Unduh File Lagi

Pada postingan kali ini saya mau berbagi kabar gembira buat kita yang sehari-hari berkutat dengan dokumen. Google baru saja memberikan kemampuan baru untuk Gemini: sekarang kita bisa mengedit dokumen langsung di dalam chat, tanpa perlu mengunduh filenya dulu.

Mungkin ada yang bertanya, memangnya sebelumnya tidak bisa? Betul, sejak April lalu Gemini memang sudah bisa membuatkan berbagai file untuk kita, mulai dari dokumen, spreadsheet, sampai PDF. Tapi kalau mau mengubah isinya, kita harus mengunduh atau mengekspor file itu dulu, membukanya di aplikasi lain, baru diedit. Ribet dan makan waktu. Nah, pembaruan yang diumumkan Google tanggal 29 Oktober 2026 ini memangkas langkah-langkah itu.

Apa Saja yang Sekarang Bisa Diedit Langsung?

Cukup banyak ternyata. Kita bisa membuka pratinjau file dalam tampilan layar penuh, lalu:

  • Mengetik perubahan langsung di dalam dokumennya.
  • Menyorot bagian teks tertentu untuk bertanya atau meminta penjelasan.
  • Meminta Gemini menyempurnakan tulisan, menulis ulang bagian yang kurang pas, atau mengubah tampilan visualnya.
  • Memberikan instruksi lanjutan, dan Gemini akan mengerjakan revisinya di tempat.

Format yang didukung juga beragam: PDF, Google Docs, Google Sheets, presentasi (Slides), Markdown, TXT, LaTeX, sampai file kode. Jadi hampir semua jenis berkas kerja kita sehari-hari masuk dalam daftar.

Kenapa Ini Terasa Membantu Sekali Buat Guru?

Bayangkan situasi yang sering kita alami. Kita meminta AI membantu menyusun draf perangkat ajar atau daftar nilai, hasilnya keluar, tapi ada beberapa bagian yang ingin kita ubah. Dulu, alurnya adalah unduh dulu, buka aplikasi lain, edit, simpan lagi. Sekarang cukup tetap berada di jendela chat yang sama: lihat hasilnya, sorot bagian yang mau diubah, ketik atau minta AI yang merevisi. Pekerjaan administrasi yang biasanya menyita waktu bisa selesai jauh lebih cepat, dan sisa waktu kita bisa dipakai untuk hal yang lebih penting, yaitu mengajar.

Catatan Penting: Belum Semua Bisa di HP

Supaya tidak kecewa, ada batasan yang perlu diketahui. Untuk saat ini, pratinjau dan pengeditan PDF sudah bisa dilakukan di versi web maupun aplikasi HP. Sedangkan untuk Google Docs, Sheets, presentasi, Markdown, TXT, dan kode, pengeditan langsungnya sementara ini baru tersedia di versi web (di laptop atau komputer). Jadi kalau mau mencoba fitur lengkapnya, bukalah Gemini lewat browser di laptop.

Kabar baiknya, Google menyebut fitur ini mulai tersedia untuk seluruh pengguna Gemini di semua bahasa yang didukung, baik akun Google pribadi maupun akun Workspace. Kalau di akun teman-teman belum muncul, sabar dulu ya, biasanya peluncuran seperti ini memang bergilir.

Perkembangan AI seperti ini menurut saya kabar baik selama kita memanfaatkannya dengan bijak. AI bukan untuk menggantikan guru, tapi untuk mengambil alih pekerjaan teknis yang berulang, supaya energi kita tersisa untuk mendidik. Sedikit demi sedikit kita belajar, lama-lama jadi terbiasa.

Semoga bermanfaat. Kalau ada yang sudah mencoba fitur edit dokumen ini, silakan berbagi pengalamannya di kolom komentar ya.

Uploaded Image

Follow Me

Foto Mr. Mung
ttd Mr. Mung

Tutorial Blogger

Pilih Arsip Blog